10 Februari 2008

SYMPHONI AIR MATA

“ seandainya tak ada peluru, Mungkin tak kupahami arti perpisahan “ Bila kau tanya apa arti air mata yang mengalir dalam nadiku adalah beribu jarum yang menusuknusuk setiap lubang keringatku.bulu disekujur tubuhku menjelma padang mengerikan.tengadah memandang mayapada sembari bertanya pada Tuhan : “ kenapa habil hadir menjelma monster menakutkan. Guguran dedaunan, uap tanah juga darah tumpah di padang penindasan.lambaian ranting iringi duka luka. “ seandainya tak ada peluru, Mungkin tak kupahami arti perpisahan “ Sebab cinta tak ada lagi di sini.ibarat meniup permen karet,menggelembung lalu pecah di udara jadi serpihanserpihan.waktu bergerak mengisahkan sejarah

di setiap helai cerita - Entah di kenang entah tidak Saudaraku ! Pabila engkau masih bisa berjalan Mari bergandengan.segalanya belum usai Jangan bertanya tentang warna : hijau atau merah Sebab darah telah jadi air mata Kakatua, 2006 (mengenang april makassar berdarah 1996)

Selengkapnya.....

Surat buat kekasihku

Kekasihku sayang Ketika kau datang Orang-orang berterik diatas mimbar Suaranya parau memekikan telinga Tangannya terkepal keudara membelah langit Awanpun berkumpul menjadi Satu Rintik-rintik hujan ikut berbela sungkawa Kekasihku sayang Ketika engkau datang Orang-orang tertuduk haru Matanya merah menitikkan mata Airmatanya jatuh ketanah Bercampur debu menjelama menjadi mesiu Kekasih ku sayang Bila kau datang Pena kita masih berdiri tegak Diatas kain lusuh Membakar setiap jiwa Jiwa yang meledakan mesin Batok kepala mereka Kekasihku sayang Bila esok telah tiba Janganlah engkau menangis Karena rumah kita telah berubah jadi puing-puing Tiangnya lapuk dimakan rayap Bahkan……….

Penghuninya terjangkit virus yang sangat menyakitkan Mulutnya tiba-tiba mengering di musim hujan Matanya menjadi buta Telinganya tuli ditengah-tengah kegaduhan Tangan dan kakinya menjadi lumpuh Kekasihku sayang Saat ini aku hanya bisa mengirimkan doa Kado ulang tahun dariku Kekasihku sayang semoga kau tenang dia alam syurga

Selengkapnya.....

Teater Tangan

Dari Pertunjukan Teater Tangan UKM Seni UMI Mengenang 'Amarah' tanpa Rasa Marah Teater Tangan UKM Seni UMI Makassar mementaskan lakon "Mata Was-wasnAwas Mata"di Auditorium Al-Jibra Kampus II UMI.Lakon karya sutradara Ibrahim M ini merefleksikan tragedi Amarah 1996. Namun, kali ini sutradara mendekati peristiwa itu dengan gaya yang lebih santun. Seorang perempuan berpakaian hitam berdiri mematung di sudut panggung. Tangan kanannya mengenggam kipas berwarna merah, dan tangan kirinya memegang sebuah dacin timbangan. Dari arah belakang, muncul tiga orang yang juga berpakaian serba hitam. Ketiga orang ini memikul sebuah kerangka berbentuk bola mata raksasa sambil berjalan tertatih memutari panggung. Kemudian, dari arah kiri dan kanan panggung, muncul dua orang lagi dengan langkah kaki tegap dan mengentak. Kali ini, kedua orang bersepatu lars tersebut mengenakan pakaian bercorak loreng. Panggung pun lalu di penuhi dengan orang-orang dengan gerak masing-masing. Musik lalu bergemuruh, meningkahi situasi kacau yang mulai tampak mendominasi panggung.

Adegan tersebut tersuguh pada pertunjukan teater yang digelar oleh Teater Tangan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Jumat malam, 22 April. Pertunjukan teater yang memuncaki seluruh rangkaian acara 'Pagelaran Seni April Makassar Berdarah (Amarah)' bertema 'Detak 9 Koma', itu disaksikan oleh ratusan penonton. Kendati mencoba merefleksikan sebuah tragedi berdarah yang menelan korban jiwa, sutradara Ibrahim M tampak mendekati peristiwa itu dengan gaya yang tidak meledak-ledak. Dalam lakon berdurasi sekitar 20 menit itu, Ibrahim terlihat lebih memilih menawarkan sebuah ruang kontemplasi kepada penonton. "Kami ingin tragedi Amarah tidak sekadar sebuah peringatan rutin akan sebuah tragedi berdarah. Lebih dari itu, kami berharap peristiwa itu bisa menjadi spirit bagi kami dalam berkreativitas dan bergerak," jelas Ibrahim. Pertunjukan Teater Tangan yang minim dialog itu, memang tidak mengumbar kata-kata. Selain lebih banyak menggunakan gerak, para aktor tampak memilih berkomunikasi melalui simbol-simbol. Kerangka bola mata raksasa yang dipikul oleh aktor, setidaknya dimaknai sebagai sebuah upaya mengajak penonton untuk senantiasa memelihara sikap awas. Pendeknya, kenyataan dalam kehidupan sosial, seyogianya selalu dipandang secara riil, proporsional, dan tidak melulu mengedepankan emosi. Begitu pun dengan penggunaan properti berupa ban mobil, yang dalam salah satu adegan tampak di tarik dengan susah payah oleh aktor dari tiga arah berlawanan. Adegan ini seolah menegaskan tentang perlu terus dihidupkannya sikap kritis oleh siapa pun. Bahkan, kalau perlu, dengan jalan berunjuk rasa sekalipun. Belakangan ini, ban memang seolah menjadi properti wajib di hampir setiap aksi unjuk rasa yang dilakukan. Namun, kendati Ibrahim lebih memilih metode penyampaian yang persuasif dalam refleksinya di atas pentas, itu tidak berarti sama sekali tak ada sikap protes. Wujud protes Ibrahim itu bisa dilihat pada adegan ketika seorang aktor menerobos masuk ke tengah panggung, dengan terlebih dulu mengoyak sebuah tirai kertas yang menjuntai dari langit-langit panggung. Tirai itu terbuat dari kertas kombinasi warna merah dan putih. Sebuah penggunaan simbol yang cukup kuat untuk memunculkan sebuah pertanyaaan tentang identitas keindonesiaan kita hari ini. Pun 'Dewi Keadilan' yang malam itu ditampilkan dengan raut muka yang muram. Kali ini pedang sang dewi berganti menjadi kipas berwarna merah. Juga tak ada lagi kain penutup mata. Sebuah ungkapan keputusasaan akan realitas hukum Indonesia? Dalam konteks Amarah, tentu saja Ibrahim ingin menggugat peristiwa tahun 1996 yang dinilai belum terselesaikan secara adil itu. Karena berangkat dari latar psikologis yang sama, para aktor dan penonton pada pertunjukan ini pun lebih mudah menciptakan ruang komunikasi. Betapapun, peristiwa Amarah adalah sebuah luka sejarah bagi mahasiswa Indonesia, khususnya mahasiswa UMI Makassar sendiri, yang telah jadi korban kekerasan sebuah rezim ototriter. Hanya saja, pertunjukan yang sedianya bisa memberi sebuah tontonan yang menghibur sekaligus menggugah malam itu, terasa tidak maksimal lantaran penataan cahaya yang dikemas ala kadarnya. Teater Tangan semestinya tidak berlindung pada dalih bahwa mereka tidak bermain di sebuah panggung yang mampu menyediakan 'lighting' yang baik. Pasalnya, sebuah pertunjukan teater adalah sebuah bentuk refleksi atas kenyataan yang menuntut keutuhan penyajian, termasuk tata cahaya yang baik. Selain pertunjukan teater, Unit Pengembangan Kreativitas Seni Budaya dan Sastra UMI yang menggelar Pagelaran Seni Amarah, malam itu juga menyajikan pertunjukan musik, tari dan pembacaan puisi. Keseluruhan pertunjukan yang digelar itu mengusung tema seputar peristiwa Amarah. Sebuah tragedi berdarah di kampus UMI Makassar, yang pada 24 April kemarin, tepat memasuki sembilan tahun. (*) Sumber : Laporan Bakti M Munir

Selengkapnya.....

Kronologis Memar

Kapolri Copot Kapolda Sulawesi Selatan Berita yang benar awal kejadian Berita mengenai UMI yang benar,para mahasiswa sebenarnya demo menentang aksi kekerasan Polisi terhadap pendukung Baasyir dan kecaman terhadap RMS dimana Polisi sangat lembek,....berikut berita lengkapnya Polisi Bentrok Mahasiswa MAKASSAR -- Aksi unjukrasa yang dilakukan mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar soal kasus Abubakar Ba'asyir dan konflik Ambon, termasuk mempersoalkan sejumlah mahasiswa yang ditahan polisi ketika demonstrasi di kantor KPU Sulsel, berbuntut bentroknya mahasiswa dengan aparat kepolisian, Sabtu (1/5) kemarin. Aksi unjukrasa yang dilakukan mahasiswa UMI tersebut, awalnya berlangsung aman. Mahasiswa hanya membakar ban di tengah jalan di Jl Urip Sumoharjo tersebut. Di samping itu, juga melakukan orasi yang mengecam aparat tentang penanganan pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Abubakar Ba'asyir. Di samping itu, penanganan kasus konflik Ambon, mahasiswa juga menilai aparat keamanan terlalu lemah dalam melakukan tindakan. Sebab, menurut para mahasiswa dalam orasinya, konflik di Ambon bukanlah konflik bernuansa suku, ras, dan antargolongan (SARA) melainkan konflik yang dimotori separatis gerakan Republik Maluku Selatan (RMS).

Persoalan lainnya, mahasiswa menyoroti penahanan sejumlah mahasiswa ketika melakukan aksi unjukrasa di KPU Sulsel. Para mahasiswa menilai tindakan aparat tersebut terlalu berlebihan. Sayangnya, unjukrasa mahasiswa yang memacetkan jalan, termasuk adanya penutupan jalan, membuat aparat sibuk untuk mengatur arus lalu lintas. Puncaknya, terjadi keributan antara aparat dan mahasiswa. Waktu itu, seorang anggota Perintis Polwiltabes Makassar Brigadir Polisi Satu (Briptu) Sudirman yang melintas di jalan Urip, tiba-tiba disandera mahasiswa dan dibawa ke bagian belakang Fakultas Teknologi Industri Kampus UMI. Aparat sendiri, setelah mendapat informasi adanya anggotanya yang disandera, segera menghubungi Pembantu Rektor III UMI, Ir H Lambang Basri S, agar mencari anggota polisi yang disandera. Di tengah upaya pencarian itu, mahasiswa lalu melakukan protes, termasuk berusaha menghalau petugas yang bermaksud masuk kampus UMI. Akibatnya, aparat terpaksa mengeluarkan tembakan peringatan ke udara. Namun, tembakan peringatan tersebut, justru membuat mahasiswa semakin nekat menghadapi polisi, sehingga terjadilah aksi saling lempar. Akibat bentrok aparat dengan mahasiswa, setidaknya ada tiga mahasiswa menjadi korban luka parah dan dilarikan ke rumah sakit. Korban yang luka parah yakni Syaiful mahasiswa Fakultas Teknik sipil angkatan 1997, luka kena tembakan polisi di paha kiri, Polo Padang mahasiswa Fakultas Hukum, luka di bagian kepala, Yasin Baharuddin mahasiswa Fakultas Teknik Mesin, luka di bagian kepala kena popor senjata yang dilakukan oleh polisi. Ketiga-tiganya sedang dalam perawatan di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Ibnu Sina UMI. Sementara korban luka lainnya dari pihak mahasiswa yang sementara ditahan di Polresta Makassar Timur terdapat 43 orang, termasuk dua orang dosen Fakultas Teknik Mesin UMI, Ir. Amrullah, MT dan Ir. Ardi ikut diproses di Polresta Makassar Timur, tetapi kedua-duanya sudah dilepaskan pihak kepolisian sore kemarin Sabtu (1/5). Sementara itu, atas bentrok tersebut, Kapolwiltabes Makassar Kombes Pol Drs H Yose Rizal Effendy, yang ditemui di lokasi, menyebutkan, kita tidak melarang mahasiswa unjukrasa tetapi kita justru menghindari bentrok dengan masyarakat, sehingga polisi menutup jalan sehingga mereka bebas unjukrasa, kita tutup jalan pun kelompok mahasiswa tidak menerima karena tidak ada yang nonton aksinya. Sedangkan Pembantu Rektor III UMI, Ir Lambang Basri S, yang ikut ditemui di lokasi kejadian, menjelaskan bahwa kejadian ini sangat disesalkan, apalagi membuat jatuh korban luka parah dari pihak mahasiswa. Ir. Lambang yang juga ikut jadi korban lemparan batu dari aparat kepolisian dan mahasiswa, karena berusaha menghalau bentrokan massa, mengatakan tindakan aparat kepolisian sudah menyimpang dan seharusnya untuk menghadapi mahasiswa, pihak kepolisian tidak mengutus prajurit di lini terdepan karena dinilai sangat emosional dalam bertindak, sehingga peluang bentrok sangat besar. Di lain pihak Ketua BEM Fakultas Teknologi Industri (FTI) Muhammad Nur, yang dihubungi lewat telepon, menyesalkan tindakan aparat kepolisian yang merangsek masuk kampus UMI dan menggelandang mahasiswa sambil dipukuli dengan kayu dan popor senjata polisi, padahal mahasiswa, ada yang sementara praktikum, kuliah dan sedang diskusi di halaman Fakultas Teknologi Industri

Selengkapnya.....

Seroja di persimpangan

Mestikah Membiarkan Korban Lain Berjatuhan? Film Seroja, Kisah Nyata tentang Kekerasan terhadap Perempuan Seroja adalah potret segelintir perempuan yang bernasib buntung.Sayang, pemerintah terlalu panjang berpikir untuk membuat regulasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan. Laporan Alief Sappewali SEPASANG betis putih mulus tampak saling bergesekan pelan. Pada kedua kakinya ada sepasang sandal galang hak tinggi. Perlahan-lahan, sandal di kaki kiri itu dilepas. Disusul sandal di kaki kanan. Kedua kaki dari betis mulus itu kini menyentuh lantai marmer yang berwarna putih bersih. Sejurus kemudian, kamera perlahan-lahan diarahkan ke bagian atas betis itu. Tampaklah seorang gadis berambut panjang. Kulitnya putih bersih. Roknya pendek sebatas lutut dipadu baju berwarna gelap. Rapi. Di wajahnya, tepatnya di dekat hidung terdapat dua tahi lalat. Gadis itu adalah Seroja (diperankan Wiwin Pradita/mahasiswi Stikom Fajar). Dia sedang berada di salah satu kamar sebuah hotel di Makassar untuk melayani seorang lelaki hidung belang, Budiman (Mamat Mariamang/mahasiswa UMI). Seroja tampak menggoda Budiman dengan berlenggak-lenggok mempertontonkan tubuh sensualnya. Tetapi, Budiman, lelaki berkacamata yang bekerja sebagai dosen pada salah satu perguruan tinggi di Makassar itu hanya menatap Seroja dengan dingin. Mulutnya seolah terkunci. Seroja lalu membakar sebatang rokok, lalu mengisapnya dalam-dalam. "Tunggu apalagi Mas?" katanya memancing Budiman. Begitulah prolog sebuah film indie berjudul Seroja yang diproduksi Lembaga Edukasi Multikultur dan Penerbitan Alternatif (Lempa) bekerja sama UKM Seni Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Film ini diprakarsai Lembaga Bantuan Hukum dan Pemberdayaan Perempuan Indonesia (LBH-P2i) bersama CORDAID, lembaga donor asal Belanda.

Film ini diproduksi dalam rangka Acceleration Removement and Women Empowerment Project in South Sulawesi. Penayangan perdana film berlangsung di sekretariat UKM Seni UMI, Senin 17 Desember. Film berdurasi 50 menit itu mendapat perhatian besar dari kalangan mahasiswa, khususnya perempuan. Dalam adegan film yang disutradarai Syamsuddin Simmau itu, Budiman bukannya tergiur dengan kemolekan tubuh Seroja. Dia malah tiba-tiba merasa iba. Apalagi, saat Seroja mengungkap awal kisah dirinya terjebak dalam dunia hitam. Kehancuran hidupnya bermula ketika diperkosa majikannya. Saat itu dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. "Film ini diangkat dari sebuah kisah nyata. Korbannya sekarang ada di Makassar. Dia kini menderita HIV/AIDS. Film ini diawali dengan sebuah penelitian mendalam. Kami ingin mengatakan bahwa kehadiran PSK sebenarnya bukan atas kemauan mereka. Banyak faktor yang menjadi pemicunya," kata Syamsuddin yang didampingi asisten sutradara Ibrahim. Film yang digarap sekira enam bulan ini adalah bagian dari kampanye antikekerasan terhadap perempuan. Data LBH-P2i menunjukkan, sedikitnya 127 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan ke lembaga itu hingga pertengahan Desember 2007. Kasus yang tidak dilaporkan diperkirakan lebih besar lagi. Direktur LBH-P2i Yuliani Harys mengatakan, 127 kasus kekerasan tersebut meliputi kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, dan penelantaran. "Kekerasan ini harus segera dihentikan. Kami berharap film ini bisa menggugah kesadaran kita, khususnya kaum lelaki," imbuh Elyas Joseph, ketua Yayasan LBH-P2i. Dari segi kualitas, film ini memang tidak bisa dibandingkan dengan karya sineas papan atas Indonesia. Peralatan yang digunakan sangat terbatas alias apa adanya. Penggunaan satu unit kamera saja, jelas tidak cukup sehingga film ini terkesan monoton. Pemutaran perdana juga mengecewakan akibat kendala teknis. Terlepas dari kekurangan itu, film ini patut diacungi jempol. Paling tidak, Lempa dan UKM Seni UMI telah berhasil memvisualisasikan sebuah kisah nyata yang diderita segelintir perempuan Indonesia. Lagu berjudul "Seroja di Persimpangan" yang menjadi soundtrack film ini juga patut diacungi jempol. Lagu ini khusus diciptakan untuk Film Seroja dengan nada lirih. Lirik lirih "Seroja di Persimpangan" juga seolah mengetuk nurani Pemprov Sulsel dan Pansus Ranperda Trafficking Perempuan dan Anak DPRD Sulsel. Sudah berbulan-bulan ranperda itu dibahas. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda bakal disahkan dan diberlakukan. Mestikah kita membiarkan lebih banyak lagi korban berjatuhan?(*) http://www.fajar.co.id

Selengkapnya.....

Design by Dzelque Blogger Templates 2007-2008